fitria

ketika sedih, marah, atau bahagia.....

Friday, December 21, 2007

Hati-hati Berobat ke RS. MH Thamrin Internasional Salemba

Saya menuliskan post ini sekedar berbagi pengalaman, supaya semoga kejadian yg saya alami tidak terulang lagi ke orang lain. Hari kamis lalu (13/12/2007) saya berobat ke RS. MH. Thamrin Internasional di Jalan Salemba Tengah, saya ditangani oleh dr. Novidasari di bagian poli umum. Saya memilih RS tersebut karena termasuk dalam jaringan asuransi kantor dan terdekat lokasinya dengan rumah saya.

Saya hanya diberikan 3 macam obat (penurun panas, pilek, dan vitamin). Keesokannya saya masuk kerja seperti biasa. Malamnya, saya baru menyadari kalau ternyata demam yg saya alami merupakan gejala terkena cacar. Akhirnya, Sabtu pagi (15/12/2007) saya memutuskan untuk kembali ke RS tersebut. Saat itu saya berharap mendapatkan pelayanan yg bagus dan memuaskan, mengingat RS tersebut adalah rumah sakit kelas "Platinum" di jaringan asuransi yg saya gunakan dan biayanya tidak murah. Tapi, yg saya peroleh adalah pelayanan tidak bersahabat dari dr. Novidasari yg menangani saya kamis lalu.

Sang dokter terlihat tidak mau memegang pasiennya (baca: saya). Beliau hanya menyuruh suster untuk memeriksa suhu badan saya. Aneh bukan? Dokter yg seharusnya tidak boleh jijik dengan keadaan pasiennya yg bagaimana pun. Tapi hanya karena pasiennya terkena cacar dan mungkin sang dokter takut tertular, dokter tersebut jadi enggan memeriksa pasiennya. Belum cukup sampai disini, saya meminta untuk disuntik (entah apa nama suntiknya saya gak ngerti, krn adik saya waktu berobat ke klinik langganan kami sejak kecil, ketika cacar kmrn dia mendapat suntikan yg tujuannya untuk menurunkan panas sekaligus membuat cacar cepat kering). Tapi dokter tersebut menolak dan berkata dengan nada agak kasar dan tinggi: "Mana ada cacar disuntik, dibiarin aja gitu.". Ya udah sih dok, biasa aja kali ngomongnya (dalam hati saya). Yah mungkin si dokter memang ga mau sembarangan nyuntik, takut salah dan ada apa-apa. Saya mengerti juga.

Waktu itu saya memang masih pilek dan batuk. Dokter memberikan saya berbagai macam obat (duh, sayang ketika saya menulis ini saya ga bawa obat-obat tersebut dan saya lupa apa aja obatnya) yang jelas jumlah tagihan waktu itu 618.183 IDR. Satu yg paling saya ingat adalah dokter tersebut memberikan obat Clinovir berdosis 400mg, saya harus meminumnya 5 kali sehari dan setiap minum 2 butir, total 800mg. Saya agak terkejut waktu itu, apa ga ketinggian yah dosisnya. Tapi, sekali lagi karena saya masih percaya itu RS bagus, saya turuti anjuran sang dokter.

Sepulang dari RS, saya minum obat tersebut (semuanya). Namun, panas badan saya semakin tinggi dan saya tidak merasa ada perubahan apa pun pada tubuh saya. Saya masih melanjutkan minum obat hingga minggu malam, perut saya mulai menolak. Muntah dan mual, sampai tidak bisa menerima makanan, bahkan minum pun rasanya ga bisa masuk.

Akhirnya senin pagi (17/12/2007) saya kembali ke dokter langganan saya sejak balita. dr. Suwandi Saptari. Beliau praktek di Johar Baru dan memang spesialis anak. Begitu sampai disana, sang dokter memeriksa obat-obat yg diberikan ke saya. 7 macam tidak boleh diteruskan untuk diminum, dan 2 lagi boleh diteruskan dengan dosis yg dikurangi. Dari 5 kali sehari jadi 3 kali sehari dan hanya 1 butir sekali minum. Dan saya disuntik supaya cacarnya cepat kering.

See.. untung saja saya tidak kenapa-kenapa. Bayangkan dosis obat yg terlalu tinggi dan 7 macam obat yg tidak boleh diteruskan lagi. Jadi, kalau anda hendak berobat ke rumah sakit tersebut sebaiknya teliti lagi resep obat yg diberikan sang dokter. Buat apa udah bayar mahal-mahal tapi malah mencelakakan.

cheers,
v3a

16 Comments:

Anonymous Moniq said...

salam kenal..
sy kebetulan membaca blog ini. sy tidak kenal dengan dokter di rs thamrin ataupun dr suwandi.
sayang sekali obat**an yg diresepkan dokter pertama tidak diingat sehingga tidak jelas apakah perlu atau tidak.
namun untuk clinovir yg isinya asiclovir, dosis untuk dewasa memang 5 x 800 mg. klo untuk anak** baru separuhnya. jadi asiclovir yg diberikan sepantasnya dengan dosis sekian.
mengingat dr suwandi adalah Sp.A, maka yg beliau berikan itu mungkin untuk dosis anak2. (?)
untuk cacar sendiri bisa dicek di emedicine.com dengan nama varicella-zoster.
maaf bila ada yg tidak berkenan.
salam.

4:47 PM  
Anonymous Anonymous said...

salam kenal untuk yg lg kena cacar.
sy cuma mau ikut kasih komentar aja dari apa yang saudari tulis.
1.saya merasa kurang berkenan dengan apa yg anda tulis dengan pernyataan "HATI2 TERHADAP DOKTER..." karena apa yang anda tulis belum tentu benar dan bisa menjadi FITNAH dan bisa menghilangkan nama baik seseorang. dan ternyata tulisan anda SALAH.Hati2 anda juga bisa dituduh mencemarkan nama baik seseorang.
2.Pemberian clinovir memang benar dosisnya seperti itu.jadi 2X anda salah.
3. Dokter tidak bisa mendianosis cacar (varicela Zoster) jika gejala yang ditemukan baru panas, dan pilek.karena gejala tersebut merupakan tanda2 simptomatik dari penyakit tertentu.
4.malah saya jadi bingung, mengapa dokter sp.A menurunkan dosisnya.
5.Dr. Novidasari sudah benar mungkin caranya saja yang kurang berkenan dihati pasien yang sedang sakit.
6. Jangan terlalu mudah memberikan statemen yang anda sendiri belum mengerti dunia kedokteran, saran saya jika anda kurang berkenan atau bingung tanyakan pada dokter yang bersangkutan. Bukannya menulis seperti itu.
7. SAYA TIDAK MENGENAL DOKTER-DOKTER DIATAS!!!! SAYA HANYA MEMBERIKAN KETERANGAN YANG BENAR.


SALAM DUNIA MEDIS

5:26 PM  
Anonymous Anonymous said...

berhubung byk salah dlm posting ini, gimana klo dihapus aja..hehehhe...

11:51 PM  
Anonymous dr. Novidasari said...

Saya dr. Novidasari ingin menyampaikan keberatan komentar sepihak yang ditulis mengenai saya dan ingin meluruskan kalau Obat yang saya berikan sudah tepat, dan bukan saja penderita cacar yang bisa mengkonsumsinya tapi, penderita epilepsi, insomnia, asam urat sampai impotensi. Silahkan buktikan sendiri, dan baru berkomentar. Obat saya itu manjur dan bukan sekedar obat biasa atau digunakan pada diagnosa2 klinis, tapi dapat menambahkan vitalitas dalam keseharian, dan sudah banyak pasien saya yang mengunakan nya dalam menyiapkan hidangan2 keluarga. Selain kegunaan-nya sebagai terapi penyakit dan bumbu masak, obat itu pula sering saya sendiri gunakan sebagai kosmetik dasar atau foundation jika ditumbuk dan dioleskan ke wajah sebelum mengunakan bluss-on atau asesoris lain nya. Nah jika sudah begitu banyak yang menikmati manfaatnya maka, cobalah anda sendiri buktikan multi-manfaatnya!

salam,

11:59 PM  
Anonymous dr. wahyu, SpOG said...

1. Bener tuh dosisnya untuk dewasa memang segitu jadi gak berlebihan.
2. mual, muntah emang biasa terjadi pada ang kena cacar air, efek saluran pencernaan dari asiklovir juga bisa menyebabkan seperti itu
3. dr. novidasari, anda memberikan obat yang bisa ditumbuk trus dioleskan dan bermanfaat, udah ada uji klinisnya? sebagai klinisi harusnya memberikan obat berdasarkan bukti klinis, kecuali pada keadaan tertentu bisa saja dengan bukti empiris selama bukti klinis tidak tersedia. Hal itu harus dikomunikasikan pada pasien karena bisa saja respon individual berbeda.
4. saya spesialis obsgyn yang menaruh perhataian pada evidence based medicine. terima kasih

11:03 AM  
Anonymous Anonymous said...

Mana nih si penulis artikel. Uda kabur. Dasar orang kampung yang tidak ada pendidikan dokter. Gak tau apa-apa, tapi banyak bacot. Gantung diri aj lu.

8:49 AM  
Anonymous Anonymous said...

anonymous,kayanya anda yg seperti orang kampung...!!
beberapa kali anda menjawab artikel ini dengan berwibawa seakan-akan anda mengerti dunia kedokteran tetapi tulisan anda terakhir seperti "ORANG YANG TIDAK BERPENDIDIKAN SAMA SEKALI"...
mungkin sebaiknya anda saja yang gantung diri...

salam

8:56 AM  
Anonymous Anonymous said...

Para dokter harusnya evaluasi diri. Ini kan masukan dari pasien. Kalau ada kritik, ya diterima saja. Berarti ada yang salah dengan cara dokternya, terutama dengan kurangnya penjelasan mengenai obat2. Saya disini sebagai orang awam yang sering berobat ke rumah sakit ingin menghimbau kepada teman2 pasien lainnya, kalau berobat ke dokter sering2lah bertanya obat ini untuk apa, ini kenapa, dll. Karena kita adalah konsumen punya hak untuk mendapatkan pengobatan dan pelayanan yang terbaik. Dokter bukanlah tuhan..bukan juga dewa..mereka juga bisa salah.

3:27 PM  
Anonymous Anonymous said...

kasus kasus seperti ini wajib dilaporkan ke lembaga konsumen, agar pihak rumah sakit atau dokter-dokter (yg notabene katanya ahli dgn titel gelarnya dan mempunyai moto "manusia dgn kemanusiaannya") itu benar2 dituntut profesionalisme dengan kode-kode etik kedokterannya. Karena banyak dokter-dokter yg tidak disiplin dan wajib di "BLACK LIST" dan di "CEMO'OH/DILECEHKAN" karena sudah tidak lagi berperi kemanusiaan.

11:12 AM  
Anonymous Anonymous said...

Rata2 dokter memberikan penjelasan tidak seperti yang diharapkan oleh sipasien. Tidak seperti Ir. kalau menjelaskan detail walau kita tidak faham dengan istilah istilahnya (tp bisa dijelaskan detail istilah mereka). Dan kalau saya lihat orang yang bicara gantunf diri itu diatas sepertinya memang kalau dia seorang dokter harus dia yang dihukum gantung, karena dia lebih faham dengan manusia dan kemanusiaannya.

Salam,

IDI
39I8OI

11:21 AM  
Anonymous Jimmy said...

Alangkah kasihan negeri ini jika setiap permasalahan, persengketaan dan konflik selalu saja diperumit berbelit-belit, penuh emosi, tak berpikir panjang dan berkepala dingin, hanya oleh karena provokator-provokator yang hanya memperkeruh suasana,tanpa menawarkan solusi positif. Marilah kita tenangkan diri kita, mari kita pecahkan segala permasalahan sosial dengan duduk diam dengan kepala dingin. Pasti adalah jalan keluar dari setiap masalah yang terjadi.

Untuk para dokter, marilah memperlakukan pasien dengan baik sebagai klien dan customer. Tanggapilah semua keluhan dan permasalahan mereka. Dengarkanlah mereka. Lihatlah akan repeat order yang mereka buat jika Anda memperlakukan pasien dengan baik.

Untuk para pasien, marilah semakin bijak dan cerdas. Tanyakanlah segala sesuatu yang ingin Anda ketahui tentang permasalahan yang membuat Anda datang ke dokter. Janganlah takut untuk bertanya kepada dokter. Dokter juga membutuhkan umpan balik dari Anda agar dokter semakin peka terhadap masalah pasiennya, yang adalah subjek bukan objek.

Terima Kasih.

10:13 PM  
Anonymous Anonymous said...

ini persoalan dokter2 diindonesia tdk lg orientasi kemanusiaan tapi sudah orientasi ke profit/keuntungan,lihat saja dengan kasus diatas bahwa pasien yg memakai jaminan asuransi kantornya di rumah sakit manapun pasti diperlakukan hal serupa karena sejatinya dokter minta dibayar KES berbentuk duit. karena dokter2 diindonesia bekerjasama dgn perusahaan asuransi untuk menolak atau mmbatasi pengobatan nasabah, knp? karena yg namanya perusahaan pasti nyari untung, nah keuntungan utama perusahaan asuransi dengan menolak KLEM, klo menerima KLEM perusahaan akan rugi dokter tdk dapat duit dr perusahaan asuransi.

6:48 PM  
Blogger harris said...

ass.salam kenal saya aris (ky putih)

saya tau tuh rs thamrin dr kecil umur 5 thn mgkn dr ayah saya, tuh rs dari yg cm rmh kecil skrng dah jadi gedung tinggi yg bsar...

tapi dibalik kebesaran itu tdk diikuti pula pelayanan thd msyarakat...wkt itu ayah saya masuk icu rs thamrim tgl 20 april 2011 jam 08.00pagi, awalnya sesak napas..setelah itu dbw ke ruangan rontgen (jarak skitar 25 m dr icu ke ruangan rontgen)tiba2 jantung ayah melemah jd buru2 dbw ke ruangan icu lg.. akhirnya dicoba dipompa slma 10-15 menit..nyawa ayah sy tak tertolong..yg saya prihatinkkan 1. apakah ayah saya terlalu lama brada di ruangan rontgen jd penguapan tdk optimal..ke 2.dibagian administrasi rs sangat sy sayangkan sikapnya terhadap orang yg biasa berobat ksana, ayah sy blom dapat kmr inap...pdhl ayah saya sering br

3:03 PM  
Anonymous Anonymous said...

Disini gw cuma mau curhat.. Saya sudah sering ke rs.thamrin umur saya 23.. Terlalu banyak kelemahan di rs. Tersebut.. Dri suster, kasir, bagian informasi pelayanan disana tidak ada yg ramah.. Diamana2 pelanggan adalah raja tpi disini pelanggan malah di anggap rendah.. Saya juga pernah dikatai oleh suster bagian laboratorium.. Dia tanya penyakit gw.. Gara2 tdi gw abis komplain dia malah ngatain penyakit gw.. Jangan mentang umur gw masih kecil tpi gw dianggep ga hormat gtu.. Gw sebenernya sakit hati sama nih rs. Tpi apa mau dikata gw pake asuransi dan dr yg nanganin gw emang dri RSCM dan dia jaga rs thamrin cuma untk panggilan.. Tpi untung nya dr gw itu baik.. Memperlakukan sama terhadap semua pasien.. Intinya pls ya RS. Thamrin yg di daerah salemba.. Diperbaiki lah kinerja kalian.. Kalian itu di gaji dri kami.. Tku buat yg punya blog..

8:05 PM  
Anonymous Anonymous said...

Saya kecewa dg tanggapan dr. Novidasari yg begitu emosional dlm menanggapi keluhan pasien.memang ada ketidakpatutan dlm menulis keluhan dari sdri v3a, namun begitu disitulah perbedaannya pasien dg dokter. Dokter harus mampu menjelaskan dg baik & arif bukan membela diri karena dokter posisinya diatas artinya lebih tahu dari pasien. Karena kekurang informasian dan sikap kurang bersahabat dari dokter dapat menyebabkan keluhan pasien(setiap dr berbeda dlm menyikapi pasiennya), dan itu wajar sekali.

9:37 AM  
Anonymous Anonymous said...

Saya memahami penulis karena saya jg pernah mengalami perlakuan semacam dr seorang dokter wanita yg berjaga malam hari di IGD - di RS di daerah JakBar. Mungkin beliau sdg datang bulan ya, jd ketika saya baru mau menceritakan sekilas riwayat dan keluhan yg saya rasakan, beliau dgn cepat memotong dgn ketus. Waktu saya mencoba sedikit menginformasikan keluhan yg ada dan kebingungan saya akan gejala2nya (dg harapan menerima sedikit empati dan klu), malah dijawab dgn sedikit membentak sampai sahabat saya yg mengantar kaget mendengarnya. Akibatnya, sy yg sdg sakit itu malah jd semakin sesak rasanya hehe.

Saat diberi resep obat, sahabat saya yg memang mempunyai sakit serupa (gangguan pencernaan dan maag)dan lebih akut sehingga dia sudah sampai ke tahap dokter internis di RS lainnya, dialah yang banyak bertanya kegunaan dari masing-masing obat ketimbang dokternya menjelaskan kegunaannya. FYI, sebelum ke internis, sahabat sy juga pernah beberapa kali berobat ke IGD di mana saya periksa malam itu, hanya dokternya berbeda : Ramah, sabar mendengarkan keluhan dan menjawab pertanyaan pasien. Entah kenapa dosis obat yang diberikan dr wanita tsb utk saya lbh tinggi dr dosis yg diberikan internis ke sahabat saya yg sudah lbh akut kondisinya (obatnya sama). Dan ketika kembali ke rumah, sy periksa kembali obat-obat yg prh saya terima de dokter di RS yg sm 1 tahun sblmnya, ternyata ada jg obat yg sama tp dosisnya lbh rendah. Akhirnya sy memilih membeli obat di apotik luar dg mengikuti dosis dr dokter sebelumnya sj. Bersyukur, saya tetap sembuh tanpa harus ditingkatkan dosisnya (berhubung saya tidak terlalu percaya dg dokter wanita itu yang mendengarkan riwayat gangguan pencernaan saya pun terkesan tidak mau pdhl sy cm satu2nya pasien di IGD - tdk ada antrian).Dari pengalaman itu, sy tdk mau lagi periksa di RS itu kalau yang berjaga dokter tadi (jd sy hafalkan kuat-kuat nama dokter tsb). Dijadikan pengalaman saja :)

Terima kasih.


1:17 PM  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home